Pembelajaran Drama Sebagai Media Menanamkan Karakter Siswa
Pembelajaran Drama Sebagai Media Menanamkan Karakter Siswa
Oleh
I Kadek Putu Ardana
( Guru SMP Negeri 1 Bebandem)
Pendidikan merupakan sarana meningkatkan tarap hidup dan tempat menimba ilmu serta mengaktualisasikan diri seorang individu. Pendidikan tidak hanya dilakukan di sekolah, namun dapat dimulai dari lingkungan keluarga. Sekolah mempunyai peran vital, dalam membentuk karakter seseorang. Pendidik menjadi agen kedua setelah orang tua dalam proses pembelajaran untuk membentuk seorang individu menjadi insan terpelajar, berkarakter dan dapat menyelaraskan ilmu pengetahuan dalam kehidupannya. Tujuan penyelenggaraan pendidikan adalah membentuk sumber daya manusia yang cerdas,bermoral dan berkarakter. Salah satu pembelajaran di dunia pendidikan yang sekiranya dapat menanamkan karakter siswa adalah pembelajaran drama dengan metode bermain peran.
Drama adalah karya sastra yang menggambarkan aktivitas kehidupan manusia yang menekankan dialog, laku dan gerak. Pembelajaran drama di sekolah mencakup tiga hal yaitu; pembelajaran teori drama, pembelajaran bermain peran dan pembelajarn apresiasi drama. Pembelajaran bermain peran merupakan kesempatan berharga bagi siswa untuk memperoleh pengetahuan, pemahaman tekstual serta pengalaman praktis. Sebagai pendidik harus mampu menciptakan sistem pembelajaran efektif dan inovatif yang dapat menanamkan pendidikan karakter. Pesan moral dalam drama disampaikan secara halus, dengan begitu siswa perlu dicontohkan agar lebih paham. Siswa akan mampu menjadi pribadi yang baik apabila ia belajar dengan serius serta bersungguh-sungguh. Seni bermain peran dapat mengusung tema religius, nasionalisme, gotong royong, kemandirian yang relevan dimiliki oleh siswa. Pada pelaksanaan pembelajaran drama metode bermain peran sangat efektif diterapkan karena siswa terlibat langsung dalam pembelajaran.
Pembelajaran drama dengan metode bermain peran dapat dilakukan di dalam kelas atau luar kelas, hal itu akan memberikan manfaat bagi siswa untuk menunjang penanaman karakter siswa. Perilaku seseorang lebih banyak ditentukan oleh faktor-faktor pribadinya yang paling dalam. Pendidikan hanya dapat membina dan membentuk, tetapi tidak dapat menjamin secara mutlak bagaimana watak manusia yang dididiknya. Meski demikian, sehubungan dengan pembentukan karakter, ada dua hal yang dipetik dari pembelajaran drama yaitu; mampu membina perasaan lebih tajam dan pengembangan kualitas kepribadian. Pentingnya pembelajaran drama sebagai media menanamkan karakter siswa, hal itu dapat diterapkan di sekolah kaitannya dengan salah satu materi pembelajaran bahasa Indonesia.
Metode pembelajaran bermain peran dalam pembelajaran drama merupakan orientasi pembelajaran berpusat pada siswa, sehingga siswa akan aktif menerapkan keterampilan seni peran. Metode bermain peran adalah metode pembelajaran simulasi yang diarahkan untuk mengkreasi peristiwa sejarah, peristiwa-peristiwa aktual atau kejadian-kejadian yang muncul pada masa mendatang. Bermain peran pada prinsipnya merupakan metode untuk menghadirkan peran-peran yang ada dalam dunia nyata ke dalam suatu pertunjukan peran di dalam kelas/pertemuan, yang kemudian dijadikan sebagai bahan refleksi agar siswa memberikan penilaian terhadap peran tersebut (Endraswara, 2011). Tujuan metode bermain peran menurut (Syaiful, 2010) antara lain: (a) Agar siswa dapat menghayati dan menghargai perasaan orang lain; (b) Dapat belajar membagi tanggung jawab; (c) Belajar mengambil keputusan dalam situasi kelompok secara spontan; (d) Merangsang kelas untuk berpikir dan memecahkan masalah; (e) Mendorong siswa menciptakan realitas sendiri; dan (f) Meningkatkan rasa percaya diri siswa.
Langkah-langkah pelaksanaan metode bermain peran menurut (Suharto,1997) yaitu: (a) Guru menerangkan dan memperkenalkan kepada siswa tentang pelaksanaan metode bermain peran; (b) Guru menunjuk beberapa siswa untuk bermain peran dimana masing-masing siswa akan mencari pemecahan masalah sesuai dengan perannya sementara siswa yang lain menjadi penonton dengan tugas-tugas tertentu pula; (c) Guru memilih masalah yang urgen sehingga menarik minat siswa; (d) Guru dapat menceritakan peristiwa yang akan diperankan sambil mengatur adegan yang pertama agar siswa memahami peristiwanya; (e) Guru memberikan penjelasan kepada pemeran dengan sebaik-baiknya, agar mengetahui tugas peranannya, menguasai masalah dan pandai berekspresi maupun berdialog; (f) Siswa yang tidak bermain peran menjadi penonton yang aktif, disamping mendengar dan melihat, siswa harus memberikan saran dan kritik kepada siswa yang telah bermain peran; ( g) Bila siswa belum terbiasa, perlu bantuan guru dalam menimbulkan pertama dalam dialog; (h) Setelah bermain peran mencapai situasi klimaks, maka harus dihentikan agar kemungkinan-kemungkinan pemecahan masalah dapat didiskusikan: (i) Sebagai tindak lanjut dari hasil diskusi, dilakukan tanya jawab, diskusi atau membuat karangan yang berbentuk sandiwara. Alasan diterapkannya metode pembelajaran bermain peran dalam kegiatan belajar mengajar adalah untuk penanaman dan pengembangan konsep, nilai, moral, serta norma. Hal ini dapat dicapai bila para siswa secara langsung bekerja dan melakukan interaksi satu sama lainnya dan melakukan pemecahan masalah melalui peragaan. Oleh karena itu, metode ini mampu menghasilkan suatu pengalaman yang berharga bagi siswa (Mulyadi, 2004).
Pada permasalahan ini, pembelajaran drama sebagai media menanamkan karakter melalui metode bermain peran sanagt efektif. Langkah ini tepat karena siswa hiharapkan memiliki mental yang kuat, dan berkarakter karena mereka merupakan generasi emas penerus bangsa di era global. Menanamkan pendidikan karakter tidak gampang atau bisa diceramahkan begitu saja tetapi harus ditumbuhkan, dibiasakan melalui keteladanan pendidik dan orang tua. Pendidik menjadi kunci utama keberhasilan menanamkan karakter siswa. Pendidikan karakter saat ini diterapkan dalam kurikulum 2013 yang dilaksakan di sekolah-sekolah, diharapkan mampu menjadikan siswa bukan hanya pintar tetapi memiliki karakter baik. Hal itu, sesuai program penguatan pendidikan karakter (PPK) yang digulirkan pemerintah melalui Peraturan Presiden Nomor 87 Tahun 2017.
Dengan demikian siswa akan memahami karakter baik dan buruk. Karakter baik akan berdampak positif bagi kehidupannya tidak hanya berdampak pada diri siswa juga mampu mempengaruhi orang lain untuk berbuat kebaikan, sebaliknya karakter buruk akan berdampak negatif dan berpengaruh kejalan kehancurn seseorang dalam kehidupannya. Setelah mengikuti pembelajaran drama dengan metode bermain peran, siswa diharapkan memiliki katakter baik seperti ; religius, toleransi, santun, jujur, percaya diri, tanggung jawab, sopan, cinta nanah air, peduli, cinta damai, demokratis, mandiri dan lain-lain. Beberapa karakter tersebut sedikitnya mampu membentengi diri siswa dalam menghadapi perkembangan zaman di era global saat
ini.
Share This Post To :
Kembali ke Atas
Artikel Lainnya :
- Bapak Wabup Pandu Beri Apresiasi SMPN 1 Bebandem Sulap Sampah Plastik Jadi Gaun
- PROGRAM PENDIDIKAN INKLUSIF BAGI ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS DI SMPN 1 BEBANDEM
- PELAKSANAAN PROGRAM PENDIDIKAN INKLUSIF BAGI ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS DI SMPN 1 BEBANDEM
- Aturan dan Kebijakan (Tahun 2023)
- Pembelajaran Masa PPKM di SMPN 1 Bebandem Dengan Metode KODARING dan KURUS (Tahun 2022)
Kembali ke Atas



